Bagian 1: Perkenalan dan Kedekatan Awal
Riko baru saja tiba di stasiun kota besar dengan tas ransel yang tampaknya lebih tua dari dirinya sendiri. Semangatnya meluap-luap, wajah 19 tahunnya penuh harapan tentang kehidupan kuliah yang akan dimulainya besok. Di antara kerumunan penumpang yang keluar, ia melihat sosok yang sudah tidak asing lagi lagi – Tante Siska, adik dari ibunya.
“Nak, Riko! Di sini!” panggil Tante Siska, melambaikan tangan.
Riko mendekat, tersenyum lebar. “Tante, maaf nih nambah-nambahin,” katanya sambil membungkuk hormat.
Tante Siska tertawa kecil, suaranya melengking manis. “Apa yang nambah-nambahin, kamu kan keponakan tante sendiri. Sudahlah, ayo kita pulang. Om Budi sudah nggak sabar mau denger cerita kamu.”
Di perjalanan pulang, Riko tidak bisa berhenti memandang Tante Siska. Usianya sudah 32 tahun, tapi wajahnya masih seperti gadis belia. Kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, dan bibirnya yang selalu terlihat basah membuat siapa saja yang melihatnya tergoda. Hari itu Tante Siska memakai blouse putih tipis yang sedang ketat, menampilkan bentuk payudaranya yang padat dan membusung. Riko menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya.
“Kenapa, Nak? Tante ada yang aneh?” tanya Tante Siska tiba-tiba.
Riko tersentak. “Eh, nggak, tante. Cuma… kota ini lebih ramai dari yang kubayangkan,” jawabnya cepat.
Tante Siska tersenyum misterius, seolah tahu apa yang sebenarnya dipikirkan keponakannya itu.
Sesampainya di rumah, Om Budi menyambut Riko dengan hangat. Setelah makan malam dan bercerita banyak hal, Riko dipersilakan masuk ke kamarnya – kamar tamu yang akan menjadi tempat tinggalnya selama kuliah. Kamar itu bersebelahan dengan kamar Om Budi dan Tante Siska.
“Riko, ini kamar kamu ya. Kalau butuh apa-apa, tinggal ketuk pintu kamar tante,” kata Tante Siska sambil berdiri di pintu.
Riko mengangguk, tapi matanya tak bisa lepas dari daster tidur yang dipakai Tante Siska. Daster itu berwarna pink muda dengan bahan katun yang tipis, menampakkan bayangan tubuhnya di balik cahaya lampu koridor. Terutama bagian dadanya yang menonjol dan pangkal pahanya yang terlihat jelas.
“Oke, tante. Terima kasih,” kata Riko, berusaha bersikap sopan.
Tante Siska mengedipkan mata, lalu pergi dengan senyum menggoda yang membuat jantung Riko berdegup kencang.
Beberapa hari berikutnya, Riko mulai terbiasa dengan rutinitas di rumah itu. Om Budi memang sering pergi dinas ke luar kota, sehingga seringkali hanya Riko dan Tante Siska di rumah. Di saat-saat seperti itulah Riko mulai mengamati tante-nya lebih dekat.
Tante Siska memang tidak pernah bisa diam. Saat di rumah, ia sering memakai pakaian yang sangat minim – kadang hanya celana pendek hotpants dengan kaos ketat tanpa bra, atau daster tidur yang bahkan lebih tipis dari yang biasa dipakainya. Setiap ia berjalan, payudaranya yang besar itu bergoyang menggoda.
Riko merasa nafsunya mulai memuncak. Kontolnya sering tegang tanpa bisa dikendalikan saat melihat Tante Siska membersihkan rumah dengan membungkuk, memperlihatkan belahan dadanya yang dalam. Atau saat ia duduk di sofa dengan kaki disilangkan, kadang-kadang Riko bisa melihat sedikit bayangan memeknya dari balik celana pendek yang ia pakai.
Suatu hari, saat Om Budi sedang pergi dinas, Riko sedang belajar di kamarnya saat mendengar suara Tante Siska dari luar.
“Riko, tolong antarin tante ke dapur ya! Tante mau ambil something di lemari atas,” teriaknya.
Riko segera keluar dan mendapati Tante Siska berdiri di depan lemari dapur, menatap ke atas dengan ekspresi kesal. Ia memakai kaos putih tipis dan celana pendek denim yang sangat pendek, memperlihatkan pahanya yang mulus.
“Di situ, yang toples kue,” kata Tante Siska sambil menunjuk ke arah rak paling atas.
Riko mendekat, mencoba mengabaikan aroma wangi tubuh Tante Siska yang menusuk hidungnya. Ia berdiri di belakang tante-nya, meraih toples kue itu. Tapi saat ia mengulurkan tangannya, tangannya sengaja “tidak sengaja” menyentuh punggung Tante Siska.
Tante Siska menoleh, matanya bertemu dengan mata Riko. “Oh,” katanya singkat, tersenyum kecil.
Riko bisa merasakan jantungnya berdegup lebih keras. Ia bisa melihat gundukan putih di balik kaos tipis tante-nya itu, jelas sekali bahwa ia tidak memakai bra.
“Maaf, tante,” kata Riko pelan.
“Tidak apa-apa, Nak. Kan tante juga sudah menganggap kamu seperti anak sendiri,” jawab Tante Siska, tapi matanya tetap menatap Riko dengan pandangan yang sulit diartikan.
Setelah kejadian di dapur itu, Riko jadi semakin tidak bisa konsentrasi. Setiap kali Tante Siska lewat di depannya, imajinasinya langsung liar. Ia jadi sering “tidak sengaja” berada di tempat yang sama dengan tante-nya. Saat Tante Siska menonton TV di ruang keluarga, Riko pura-pura mau minum di dapur, padahal cuma mau lewat di depannya untuk melihat paha mulusnya yang tersingkap saat ia duduk.
Suatu malam, Riko bangun dan keluar kamar untuk minum. Saat melewati kamar Tante Siska, ia melihat pintunya sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Tante Siska sedang duduk di depan meja rias, hanya mengenakan daster tidur tipis sambil mengeringkan rambutnya yang baru basah kuyup. Daster yang menempel di badannya karena keringat dan uap air dari kamar mandi membuat bentuk tubuhnya terlihat sangat jelas.
Riko menahan napas. Ia bisa melihat bayangan punggung mulusnya, dan saat Tante Siska sedikit menoleh ke cermin, ia sempat melihat samping payudaranya yang menonjol. Kontol Riko langsung berdiri. Ia berdiri di sana selama mungkin, menikmati pemandangan terlarang itu, sampai akhirnya Tante Siska selesai dan mematikan lampu kamarnya.
Riko segera kembali ke kamarnya dengan jantung berdebar-debar dan nafas yang tersengal. Ia tahu ini salah, tapi ia tidak bisa berhenti memikirkan Tante Siska.
Besoknya, saat sarapan, Riko jadi sangat canggung. Ia tidak berani menatap mata Tante Siska langsung.
“Kenapa kamu, Riko? Kok dari tadi diam saja? Sakit perut?” tanya Tante Siska sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Riko menggeleng. “Nggak, tante. Cuma… capek aja,” katanya, berbohong.
Tante Siska menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Oooh, capek karena kuliah ya? Wajar, kamu kan baru mulai. Kalau begitu, nanti siang tante buatkan es buah ya, biar segar.”
“Oke, tante. Terima kasih,” jawab Riko singkat, masih merasa bersalah karena telah mengintip tante-nya semalam.
Tapi siang itu, saat Tante Siska mengantarkan es buah ke kamar Riko, ia melihat keponakannya sedang tidur siang. Riko tidur telentang, dengan selimut yang sedikit terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang. Tante Siska tersenyum kecil, lalu meletakkan es buah itu di meja dan pergi dengan tatapan yang penuh arti.
Riko sebenarnya tidak tidur. Ia hanya pura-pura tidur, dan ia bisa merasakan kehadiran Tante Siska di kamarnya. Ia juga bisa mencium aroma wangi tubuhnya yang menenangkan. Ia membuka matanya setelah Tante Siska pergi, dan melihat es buah itu di mejanya.
“Gila, Riko… apa yang kamu pikirkan?” bisiknya pada diri sendiri. “Dia tantemu, istri dari ommu sendiri.”
Tapi di lubuk hatinya, ia tahu ia sudah terlalu jauh jatuh dalam pikiran kotor tentang Tante Siska. Dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk berhenti.
Bagian 2: Intipan dan Ketertarikan Tersembunyi
Pagi itu, suasana di rumah terasa sepi setelah Om Budi berangkat untuk proyek di luar kota. “Hati-hati di jalan, Say! Jangan lupa makan teratur!” teriak Tante Siska dari pintu sambil melambaikan tangan pada suaminya yang pergi.

Setelah mobil Om Budi menghilang di tikungan, Tante Siska kembali ke dalam rumah dengan senyum masih terkembang. “Yah, sekarang tinggal kita berdua ya, Nak?” katanya pada Riko yang sedang duduk di ruang tamu.
Riko hanya mengangguk, merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia mencoba bersikap biasa saja, “Iya, tante. Ada yang bisa Riko bantu?”
Tante Siska tertawa kecil. “Tenang saja, Nak. Santai saja di rumah, ya? Kan ini rumah kamu juga.”
Hari itu berlalu dengan kegiatan biasa. Riko mencoba belajar di kamarnya, tapi pikirannya terus melayang ke Tante Siska. Ia jadi lebih sering keluar kamar dengan alasan mencari minum atau ke toilet, padahal sebenarnya ia ingin melihat tante-nya yang beraktivitas di rumah.
Siang itu, Riko keluar kamar dan mendapati Tante Siska sedang membersihkan rumah. Ia memakai kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek katun yang sangat pendek. Saat ia membungkuk untuk membersihkan meja, Riko bisa melihat jelas belahan payudaranya yang membusung.
Riko segera kembali ke kamarnya dengan wajah memerah. Ia merasa bersalah, tapi juga tidak bisa mengendalikan nafsunya. Kontolnya sudah tegang keras di balik celananya.
Sore harinya, Riko memutuskan untuk mandi. Saat ia sedang menggosok gigi, ia mendengar suara Tante Siska dari luar kamar mandi.
“Riko, tante masuk ya! Tante mau ambil handuk,” katanya.
Riko kaget. “Tunggu, tante! Aku masih…” tapi sudah terlambat. Pintu kamar mandi sudah terbuka.
Tante Siska masuk dengan santai, seolah tidak ada yang aneh. Ia langsung menuju rak handuk, mengambil handuknya, lalu berbalik. Riko yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya langsung membelakangi tubuhnya, wajahnya memerah.
“Oh, maaf, Nak. Tante kira kamu sudah selesai,” kata Tante Siska, tapi suaranya terdengar seperti tidak sama sekali merasa bersalah.
Riko tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.
Tapi Tante Siska tidak segera pergi. Ia berdiri di sana, memandangi punggung Riko yang basah kuyup. “Kamu punya badan yang bagus, Nak. Rajin olahraga ya?”
Riko hanya bisa mengangguk, merasa sangat tidak nyaman.
“Oke, tante keluar ya. Kamu mandinya yang bersih ya,” kata Tante Siska sambil pergi, tapi sebelum pergi, matanya sempat melayang ke arah cermin di dekatnya, di mana ia bisa melihat bayangan tubuh Riko dari belakang.
Riko segera mengunci pintu setelah Tante Siska pergi. Ia bersandar di pintu, napasnya tersengal-sengal. Ia tidak tahu apakah Tante Siska melakukan itu dengan sengaja atau tidak, tapi ia tahu satu hal: ia sangat terangsang.
Malam itu, Riko tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang ke Tante Siska. Ia jadi penasaran. Apakah Tante Siska tahu bahwa ia sering memandanginya dengan pandangan nafsu?
Riko memutuskan untuk keluar kamar, menuju dapur untuk minum air. Tapi saat melewati kamar Tante Siska, ia melihat cahaya dari bawah pintu. Ia mendekat, dan mendengar suara desahan halus dari dalam kamar.
Dengan hati-hati, ia mengintip melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. Yang dilihatnya membuatnya hampir tercekik. Tante Siska sedang berbaring di tempat tidurnya, daster tidurnya sudah tersingkap hingga ke paha, menampakkan memeknya yang hanya ditutup celana dalam pink tipis. Tangannya berada di dadanya, meremas-remas payudaranya sendiri sambil matanya terpejam dan bibirnya mengeluarkan desahan halus.
Riko menelan ludah, kontolnya semakin tegang. Ia bisa melihat jelas puting susu Tante Siska yang mengeras menembus bahan daster tipisnya.
“Mmm…” desah Tante Siska pelan, tangannya turun ke bawah, masuk ke dalam celana dalamnya.
Riko menahan napas. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Ia bisa melihat jelas gerakan tangan Tante Siska di balik celana dalamnya, meremas-remas memeknya sendiri.
“Mmm… Riko…” bisik Tante Siska tiba-tiba.
Riko tersentak. Apa ia mendengar dengan benar? Apakah Tante Siska sedang membayangkan dirinya?
Sebelum ia bisa memikirkan lebih lanjut, Tante Siska tiba-tiba membuka matanya. Matanya langsung tertuju ke arah pintu, tepat ke tempat Riko berdiri.
Riko kaget setengah mati, ia segera bersembunyi di balik dinding, jantungnya berdegup kencang. Apakah ia ketahuan?
Beberapa saat kemudian, ia tidak mendengar apa-apa dari dalam kamar. Dengan perlahan, ia mengintip lagi. Ia melihat Tante Siska sudah duduk di tepi tempat tidur, dasternya sudah rapi kembali, tapi matanya menatap ke arah pintu dengan senyum misterius.
Riko segera kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk antar takut dan gembira. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi ia tahu satu hal: ia sudah terlalu jauh jatuh dalam pikiran kotor tentang Tante Siska. Dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk berhenti.
Bagian 3: Ketegangan Meningkat
Hari kedua kepergian Om Budi dimulai dengan sunyi. Riko terbangun dengan perasaan campur aduk antara rasa bersalah dan antisipasi yang membara. Kejadian semalam di mana ia memergoki Tante Siska—ataau sebaliknya—terus berputar di kepalanya. Apakah ia ketahuan? Jika ya, kenapa tidak ada teguran sama sekali?
Setelah sarapan, suasana di ruang makan terasa penuh dengan ketegangan tak terucap. Tante Siska terlihat lebih ceria dari biasanya. Ia mengenakan daster satin berwarna biru muda dengan renda di bagian dada yang sedikit rendah. Setiap kali ia membungkuk untuk menyajikan makanan atau mengambil sesuatu, Riko bisa melihat belahan payudaranya yang padat dan putih.
“Kok melamun, Nak? Masih ngantuk ya?” tanya Tante Siska tiba-tiba, membuat Riko tersentak dari lamunannya.
“Eh, nggak, tante. Cuma… mikirin tugas kuliah aja,” jawab Riko cepat, sambil menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.
Tante Siska tersenyum. “Oooh, pintar. Anak tante kalau sudah jadi sarjana nanti, jangan lupa sama tante ya.”
“Pasti tidak, tante,” jawab Riko, mencoba tersenyum.
Siang itu, Riko sedang asyik membaca di kamarnya ketika ia mendengar suara shower dari kamar mandi yang ada di sebelah kamarnya—kamar mandi yang digunakan Tante Siska. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia tahu ini kesempatan emas.
Dengan perlahan dan hati-hati, Riko keluar dari kamarnya. Ia mendekati kamar mandi itu, dan mendapati pintunya tidak dikunci. Bahkan, ada celah sekitar satu sentimeter yang memungkinkannya melihat ke dalam.
Dengan napas yang ditahan, Riko mengintip. Yang dilihatnya membuat kontolnya langsung berdiri tegak. Tante Siska sedang mandi dengan air mengalir di seluruh tubuhnya. Rambutnya yang basah kuyup menempel di punggung mulusnya. Air sabun mengalir di antara payudaranya yang besar dan membusung, lalu turun melewati perut ratanya, hingga ke memeknya yang dicukur bersih.

Riko menelan ludah. Ia tidak pernah melihat sesuatu yang indah seperti ini. Tangan Tante Siska dengan lembut mengusap sabun di seluruh tubuhnya, kadang-kadang berlama-lama di puting susunya yang mengeras, atau di pangkal pahanya.
Riko merasa kontolnya sudah tidak tahan lagi. Ia membuka celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah keras batu, dan mulai mengocoknya perlahan. Ia mencoba untuk tidak mengeluarkan suara, tapi napasnya sudah tersengal-sengal.
Tiba-tiba, Tante Siska berbalik, menghadap ke arah pintu. Riko kaget, langsung bersembunyi di balik dinding, jantungnya berdegup kencang. Tapi ia tidak mendengar suara apa-apa. Dengan perlahan, ia mengintip lagi.
Ia melihat Tante Siska sudah berdiri di bawah shower, matanya terpejam, dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tapi Riko yakin sekali bahwa Tante Siska tahu ia sedang diintip. Bahkan, Riko merasa Tante Siska sengaja memberinya pemandangan yang lebih baik.
Tante Siska lalu mengangkat salah satu kakinya, meletakkannya di tepi bak mandi, sehingga memeknya terbuka lebar di depan mata Riko. Ia lalu mengambil shower hand, mengarahkannya ke memeknya, dan membersihkannya dengan gerakan yang sangat menggoda.
Riko tidak bisa menahan lagi. Ia mengocok kontolnya lebih cepat, sambil terus menatap pemandangan di depannya. Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan sebelum ia sadari, ia sudah muncrat, menyemprotkan spermanya ke dinding di depannya.
Riko segera membersihkan bekasnya dan kembali ke kamarnya dengan perasaan lega dan bersalah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia tahu satu hal: ia sudah terlalu jauh.
Sore harinya, Riko mencoba untuk menghindari Tante Siska. Ia takut jika wajahnya akan mengkhianatinya. Tapi Tante Siska sepertinya mencarinya.
“Riko! Tolong tante ya! TVnya tidak ada gambar,” teriaknya dari ruang keluarga.
Riko menghela napas, lalu pergi ke ruang keluarga. Ia melihat Tante Siska duduk di sofa, dengan daster yang sudah diganti dengan yang lebih tipis dan pendek. Ia duduk dengan kaki disilangkan, memperlihatkan pahanya yang mulus.
“Di sini, Nak. Coba periksa kabelnya,” kata Tante Siska sambil menunjuk ke TV.
Riko berlutut di depan TV, mencoba memeriksa kabelnya. Tapi dari posisinya, ia bisa melihat langsung ke arah pangkal paha Tante Siska. Ia bisa melihat bayangan memeknya dari balik celana dalam yang berwarna ungu.
Riko mencoba untuk fokus pada TV, tapi ia bisa merasakan mata Tante Siska yang terus menatapnya. Setiap ia menoleh, ia melihat Tante Siska tersenyum misterius.
“Ada apa, Nak? Kok kamu menoleh terus?” tanya Tante Siska sambil menyentuh bahu Riko.
“Eh, nggak apa-apa, tante. Cuma… TVnya sepertinya rusak parah,” jawab Riko cepat.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti tante panggil teknisi saja,” kata Tante Siska sambil berdiri. “Tapi makasih ya, Nak. Kamu sudah membantu.”
Tangan Tante Siska sengaja “tidak sengaja” menyapu paha Riko saat ia berdiri. Riko merasakan sentuhan itu seperti aliran listrik.
Malam itu, Riko tidak bisa tidur lagi. Ia terus memikirkan semua kejadian hari itu. Ia merasa sudah terlalu jauh, tapi ia juga tidak bisa berhenti. Ia jadi penasaran, apakah Tante Siska benar-benar tahu semua yang ia lakukan?
Riko memutuskan untuk mengintip lagi. Ia keluar kamar, menuju kamar Tante Siska. Ia melihat pintunya sedikit terbuka, dan ada cahaya dari dalam.
Dengan hati-hati, ia mengintip. Ia melihat Tante Siska sedang duduk di depan cermin, mengoleskan lotion ke tubuhnya. Ia hanya mengenakan celana dalam tanpa bra, sehingga payudaranya yang besar terlihat jelas.
Riko menelan ludah, kontolnya mulai tegang lagi. Ia mengeluarkannya, dan mulai mengocoknya perlahan.
Tapi tiba-tiba, Tante Siska menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Riko kaget setengah mati, ia segera bersembunyi di balik dinding, jantungnya berdegup kencang. Ia mendengar pintu kamar Tante Siska dibuka, lalu ditutup lagi.
Riko menunggu beberapa saat, lalu mengintip lagi. Ia melihat Tante Siska sudah kembali duduk di depan cermin, tapi kali ini pintu kamarnya sudah terbuka lebar, seolah-olah ia mengundang Riko untuk terus mengintip.
Riko tidak bisa percaya apa yang dilihatnya. Ia yakin sekali bahwa Tante Siska tahu bahwa ia sedang mengintip, dan ia sepertinya menikmatinya.
Riko kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk antara takut dan gembira. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi ia tahu satu hal: ia sudah terlalu jauh jatuh dalam pikiran kotor tentang Tante Siska. Dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk berhenti.
Bagian 4: Klimaks Malam Itu
Keesokan paginya, suasana rumah kembali normal seiring dengan kepulangan Om Budi. Senyumnya yang hangat mengisi ruang makan, seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi selama dua hari ia pergi. “Sayang, aku kembali! Riko, nak, sudah baik-baik saja kan kamu sama tante?” tanyanya ceria.
Riko, yang sedang menyendok nasi, hanya bisa mengangguk kaku. “Baik, Om.” Pandangannya tak berani menemu mata Tante Siska yang duduk di seberangnya. Tante Siska terlihat tenang, bahkan mungkin lebih tenang dari biasanya, sesekali melempar senyum tipis ke arah Riko yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Hari-hari berikutnya menjadi sebuah siklus penyiksaan yang nikmat. Di siang hari, saat Om Budi ada, Riko dan Tante Siska berperan sebagai keponakan dan tante yang baik. Tapi di malam hari, atau di saat-saat sepi, tatapan mereka bertemu di lorong, sentuhan tak sengaja saat melewati satu sama lain di ruang sempit, semua itu membawa api yang sama yang berkobar dua hari lalu. Mereka belum melakukan apa-apa, belum bicara sepatah kata pun tentang itu, tapi keduanya tahu. Ada perjanjian diam yang mengikat mereka dalam rasa penasaran yang sama.
Beberapa malam setelah Om Budi pulang, Riko terbangun di tengah malam. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia bermimpi aneh tentang Tante Siska, mimpi yang sangat jelas dan sangat vulgar. Ia tidak bisa tidur lagi. Kontolnya sudah tegang keras, meminta perhatian.
Dengan napas yang berat, Riko meraih ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia membuka galeri, menuju ke folder tersembunyi yang ia beri nama “Kuliah”. Di dalamnya, bukan tugas kuliah yang tersimpan, melainkan beberapa foto hasil jepretan diam-diamnya. Foto Tante Siska sedang tersenyum di taman, foto saat ia tertawa melebar, dan yang paling sering ia lihat, foto saat Tante Siska tertidur di sofa, dengan daster yang sedikit tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya.
Riko mulai mengocok kontolnya perlahan, matanya terpaku pada layar ponsel. Ia membayangkan aroma tubuh Tante Siska, bayangan payudaranya yang membusung, dan memeknya yang ia lihat saat mengintip di kamar mandi. Nafasnya menjadi tersengal, ia mengocok lebih cepat, lebih kuat, membayangkan dirinya ada di sana, bersama tante-nya.
KNOCK! KNOCK!
Riko hampir melompat dari tempat tidurnya. Ia dengan panik menyembunyikan ponsel dan menarik selimut hingga menutupi dadanya. Jantungnya berdetak secepat drum band. Siapa yang datang tengah malam begini?
“Pintunya tidak dikunci, Riko. Buka,” bisik suara itu dari luar.
Tante Siska.
Riko membeku. Darahnya mengalir dingin. Ia ketahuan. Pasti ketahuan. Dengan gerakan yang kaku, ia turun dari tempat tidur, membuka pintu kamarnya sedikit. “Tante… ada apa?”
Tante Siska berdiri di sana, hanya mengenakan daster tidur tipis berwarna krem. Wajahnya tidak marah, tapi justru tenang, dengan mata yang bersinar di bawah cahaya redup lorong. Tanpa berkata-kata, ia mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar Riko, lalu menutupnya kembali dengan pelan.
Ia melihat selimut yang menumpuk di tempat tidur, lalu matanya beralih ke Riko yang masih berdiri dengan wajah pucat. Tante Siska tersenyum, senyum yang sangat berbeda dari biasanya. “Tante tahu apa yang kamu lakukan, Nak,” bisiknya.
Riko hanya bisa menatapnya, tidak bisa berkata apa-apa.
Dengan langkah yang lembut seperti kucing, Tante Siska mendekat. Ia tidak menatap mata Riko, tapi tatapannya lurus ke arah selimut yang masih dipegang Riko. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik selimut itu, memperlihatkan kontol Riko yang masih setengah tegang.
Riko terkejut, ingin menutupnya lagi, tapi Tante Siska lebih cepat. Tangannya yang lembut langsung meraih kontol Riko. Sentuhannya membuat Riko menggelinjang kecil. “Tante… jangan…” lirihnya, tapi suaranya tidak memiliki kekuatan.
“Diam,” perintah Tante Siska lembut. Ia mulai mengocok kontol Riko dengan pelan, gerakannya terampil dan penuh pengalaman. Riko hanya bisa pasrah, menikmati sensasi yang luar biasa itu. Ia menutup matanya, merasakan nikmat yang ia impikan selama ini.
Tapi Tante Siska belum selesai. Ia berlutut di depan Riko. Riko membuka matanya, dan ia melihat pemandangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Tante Siska menatapnya dari bawah, lalu dengan lidah yang menjulur, ia menjilat ujung kontol Riko.
“Ah… tante…” desah Riko.
Tanpa ragu-ragu lagi, Tante Siska memasukkan seluruh kepala kontol Riko ke dalam mulutnya. Ia mengulumnya dengan kuat, lidahnya berputar-putar di sekitar batangnya, sambil tangannya terus mengocok bagian yang tidak masuk. Riko merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia meremas seprai tempat tidurnya, menahan diri untuk tidak berteriak.
Beberapa menit yang terasa seperti abad berlalu. Riko merasakan sesuatu yang memuncak di dalamnya. “Tante… aku… aku mau keluar,” bisiknya cepat.
Tante Siska tidak berhenti, bahkan mengulumnya lebih dalam dan lebih cepat. Dan akhirnya, dengan sebuah desahan panjang, Riko mencapai klimaks. Ia menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam mulut Tante Siska, yang menelan semuanya tanpa sisa.
Riko jatuh tersungkur di tempat tidurnya, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat Tante Siska berdiri, mengelap mulutnya dengan punggung tangannya, lalu tersenyum.
“Jangan sampai Om Budi tahu,” katanya singkat, lalu berbalik dan keluar dari kamar Riko, meninggalkannya sendirian dengan perasaan campur aduk antara ketergilaan, kelegaan, dan ketakutan.
Riko terbaring di sana, menatap langit-langit kamarnya. Ia baru saja melintasi batas yang tidak seharusnya dilintasi. Tapi di lubuk hatinya, ia tahu ini tidak akan menjadi yang terakhir.